Posted on Tulis komentar

Takutnya Salafush Shalih Jika Amalan Mereka Batal Tanpa Terasa

Siapa pun yang membaca sejarah para salafush shalih, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, niscaya ia akan mendapati bahwa mereka selalu berada dalam khauf (rasa takut) dan raja’ (berharap). Allah, Rabb seluruh makhluk berfirman mensifati sebaik-baik makhluk-Nya, yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Rabb mereka, dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Rabb mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Rabb mereka (sesuatu apapun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 57-60)

Dari Aisyah, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini:

‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut …’ (QS. Al Mu’minun: 60): “Apakah mereka adalah orang-orang yang minum arak dan mencuri?’ Beliau menjawab:

‘Tidak wahai putri ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat, dan bersedekah, sedangkan mereka merasa takut jika amalan-amalan itu tidak diterima. Mereka itu adalah orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim)

Allah subhanahu wa ta’ala juga mensifati kaum mukminin yang bersegera dalam kebaikan, dengan sifat yang paling baik. Walaupun mereka telah melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya, tetapi mereka senantiasa merasa khawatir ibadah mereka itu tidak diterima.

Bukan khawatir Allah tidak memberikan pahala kepada mereka. Sekali-kali tidak! Karena Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, maka Allah akan memberikan kepada mereka pahala amalan-amalan mereka dengan sempurna …” (QS. Ali ‘Imran: 57)

Bahkan , Allah akan menambahkan untuk mereka karunia, kebaikan dan nikmat-Nya:

“Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya …” (QS. Al-Fathir: 30)

Akan tetapi, mereka khawatir amal ibadah mereka tidak sesuai dengan syarat-syarat yang diperintahkan Allah. Orang-orang beriman tidak memastikan bahwa mereka telah melaksanakannya sesuai dengan keinginan Allah. Sebaliknya, mereka mengira telah melakukan kekurangan dalam hal tersebut. Itulah sebabnya mereka merasa takut amal ibadah mereka tidak diterima. Dan ini pula yang membuat mereka berlomba-lomba dalam kebaikan dan beramal shalih.

Hendaklah setiap hamba memperhatikan hal ini supaya ia bertambah semangat untuk memperbaiki amal ibadah dan membuatnya semakin sempurna, serta ikhlas semata-mata karena Allah subhanahu wa ta’ala dan berdasarkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat takut jika pahala amal shalih mereka gugur tanpa mereka sadari. Dan sikap ini pula yang menjadi bagian dari kesempurnaan keimanan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“…Tidaklah merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf:99)

Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Mulaikah, seorang yang tsiqah serta faqih, mengatakan:

“Aku mendapati 30 orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya merasa takut jika kemunafikan menimpa diri mereka, tidak ada seorangpun dari mereka berkata bahwa imannya seperti keimanan Malaikat Jibril dan Mikail.” (HR. Al-Bukhari)

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (I/110-111): “Di antara para sahabat yang paling mulia yang sempat dijumpai oleh Ibnu Abi Mulaikah adalah Aisyah, Asma’ (saudara perempuan Aisyah), Ummu Salamah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin az-Zubair, Abu Hurairah, Uqbah bin al-Harits dan al-Musawwar bin Makhramah radhiyallahu ‘anhum. Ia pernah mendengar hadits dari mereka dan juga hidup sezaman dengan para sahabat lainnya yang lebih utama daripada mereka, seperti Ali bin Abi Thalib dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia menegaskan bahwa mereka merasa takut jika kemunafikan muncul dalam amalan-amalan mereka.

Yang demikian itu disebabkan seorang mukmin terkadang terkendala oleh sesuatu yang mengotori keikhlasan amalnya. Namun harus dipahami, rasa takut mereka itu  berarti bahwa mereka telah terjerumus ke dalam perbuatan kemunafikan  tersebut, tetapi ini harus dipahami sebagai bentuk kesungguhan mereka rahdhiyallahu ‘anhum dalam hal wara’ dan ketakwaan.”

Referensi:

Penyebab Rusaknya Amal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *